Aku hanyalah seorang anak yang terlahir
dari keluarga miskin di bagian timur kota terbesar di Indonesia yaitu Jakarta.
Ayahku hanyalah seorang buruh pabrik sepatu dan ibuku hanya seorang pembantu
rumah tangga. Aku memiliki seorang adik laki laki berumur 8 tahun. Aku dan
keluargaku tinggal di sebuah rumah kardus di pinggir sungai. Banyak resiko yang
harus kita hadapi saat tinggal di sana. Yang pertama resiko banyaknya penyakit
yang dapat menyerang kita, selain itu tinggal di pinggiran sungai dapat
menimbulkan resiko hanyut terbawa air. Hidupku sangat sederhana dan penuh
dengan kekurangan. Terkadaang aku selalu memandang ke depan. AKU HARUS
BERHASIL!!!! Berhasil meraih cita cita ku!!! Aku tak ingin terus menerus hidup seperti
ini. Aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku, aku ingin membalas jasa jasa
orang tuaku, aku tak ingin selalu membebankan kedua orang tuaku.
Aku seorang mahasiswa di sebuah
universitas negeri jurusan sosial politik, sekarang aku memasuki semester 8. Hari ini adalah hari pertama masuk kuliah
setelah libur panjang. Saat ku melangkah memasuki gerbang kuliah, aku sudah
mendengar berbagai ejekan serta cemohan dari teman temanku. Sejak awal aku
kuliah di sini aku sudah mendapatkan cemohan dan ejekan, sehingga aku sudah
terbiasa mendengar hal itu semua. Hanya aku....hanya aku yang mendapatkan
berbagai cemohan dan ejekan dari teman temanku. Mereka sering mengejekku dengan
ejekkan mereka yang mengatakan bahwa aku hanyalah kotoran yang mengotori kuliah
ini. Benakku selalu bertanya-tanya, “Apa
karena aku satu satunya seorang anak miskin yang kuliah di universitas terbagus,
terelit, dan termahal di Jakarta ini??? Apa seorang anak miskin sepertiku ini
tak pantas kuliah di universitas ini???” Walaupun berbagai cemohan dan ejekan
datang menghampiriku, aku akan tetap bertahan di universitas ini aku tak akan
menyianyiakan beasiswaku ini. Tujuan utamaku bersekolah agar aku dapat meraih
cita citaku, bukan untuk mencari teman atau yang lainnya, aku harus fokus pada
tujuan utamaku untuk meraih cita citaku. Dalam hal pertemanan atau pergaulan
aku mengakui aku memang kalah dengan teman temanku yang lainnya tetapi dalam
hal prestasi, aku tak mau kalah dengan mereka.
Saat istirahat aku melewati ruang
dosen tiba tiba Bu Trisya dosen fisika ku memanggil namaku, “Cindy!!” beliau
menawariku untuk menjadi perwakilan dalam lomba cerdas cermat tingkat kota. Aku
ingin sekali mengikuti lomba ini, tapi dengan tegas aku mengatakan, “Tidak”. Aku
tau lomba ini akan membutuh dana yang cukup besar. Aku memahami orangtuaku yang
tak memiliki banyak uang. Lalu Bu Trisya menjelaskan kepadaku, “Semua biaya
akan di tanggung oleh sekolah”. “Alhamdulillah!” aku mengatakannya dalam
benakku. Aku pun menyanggupi untuk mengikuti lomba cerdas cermat yang akan diadakan 2 bulan lagi. Bu Trisya
memilihku karena beliau percaya bahwa saya mampu untuk menghadapi lomba cerdas
cermat ini dan menurut beliau aku marupakan anak yang cerdas karena selalu
meraih peringkat satu di kelas dan hanya aku satu satunya anak yang pernah
mengikuti program akselerasi. Aku beruntung terpilih menjadi perwakilan lomba
ini dengan aku mengikuti lomba ini aku dapat mengasah kemampuanku. Aku pun tak
sabar memberitahu orangtuaku.
Sebelum pulang untuk memberitahu kabar
ini ke orangtuaku, seperti biasa setiap pulang sekolah aku selalu membantu
orantuaku dengan mengamen dari satu rumah ke rumah lainnya mencari selembar
uang yang dapat meringankan beban orang tuaku. Biasanya sambil mengamen aku
melihat berbagai kehidupan sosial yang dijalani beberapa orang, dan ini
menambah inspirasi hobiku. Hobiku adalah menggambar. Dimanapun, kapanpun, dan
dalam keadaan apapun aku selalu membawa peralatan menggambarku. Di waktu luang
aku selalu menyempatkan diriku untuk menggambar. Aku paling suka menggambar
tentang berbagai kehidupan sosial yang di jalani oleh beberapa orang. Apapun
yang aku gambar salalu ku pajang di dinding dinding kardus kamarku. Hingga
sekarang sudah ada puluhan gambar kehidupan sosial yang aku pajang. Dengan
memandangi gambarku tentang kehidupan sosial ini membuatku semakin bersemangat
belajar untuk meraih cita-citaku sebagai Duta Kemanusiaan yang bertujuan
mensejahterahkan kehidupan masyarakat yang ada di gambarku. Aku pernah
mengikuti lomba menggambar dan alhamdulillah aku meraih juara II. Sejak saat
itu aku pun terus mengasah kemampuanku menggambar.
****
Setelah terpilihnya aku menjadi
perwakilan dalam lomba cerdas cermat aku mendapatkan tambahan pelajaran dari Bu
Trisya. Aku mendapatkan pelajaran berupa pelajaran yang akan di ujikan pada
cerdas cermat yang akan aku ikuti. Bu Trisya satu satunya dosen yang mengerti
aku dan baik padaku. Bu Trisya senantiasa membimbingku dalam menghadapi lomba
cerdas cermat tersebut.
Hari demi hari tlah berlalu, minggu
demi minggu tlah beralu....
Kurang dari 1 minggu lagi aku akan
menghadapi lomba cerdas cermat tingkat kota. Aku semakin meningkatkan
belajarku. Aku tak mau....tak mau mengecewakan orang orang yang telah
mendukungku sepenuhnya, tak mau mengecewakan Bu Trisya, tak mau mengecewakan
orangtuaku, dan tak mau mengecewakan sekolahku. Aku harus BISA menjadi JUARA!!
Aku akan lebih keras berusaha.
Hari yang di tunggu tunggu pun tlah
tiba. Hari ini adalah hari lomba cerdas cermat dilaksanakan. Aku mendapatkan
nomer urut 081098. Aku berharap nomer ini menjadi nomer keberuntunganku.
Setelah bersiap siap, tepat pukul 08.00 Bu Trisya menjemputku menggunakan
sepeda motor. Beliau yang mengantar sekaligus menemaniku saat lomba. Saat
sampai di tempat aku bergegas memasuki ruangan yang setengah jam lagi lomba
akan dimulai, Bu Trisya pun menunggu ku di luar. Aku menghadapi berbagai macam
soal mulai dari mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, hingga Ilmu Sosial.
Aku mengerjakannya dengan santai ada beberapa soal yang tak bisa kukerjakan,
walaupun begitu aku tak menyotek ke teman sebelah ku aku menyadari kejujuran
adalah yang utama bukanlah menang atau kalah. “Teeeeng....Teeeeng....!!” Bel
berbunyi menandakan waktu mengerjakan telah selesai aku segera mengumpulkan
lembar jawabanku. Pemenang lomba akan diumumkan satu minggu setelah pelaksaan
lomba. Dan aku pun segera pulang, di perjalanan aku bercerita banyak kepada Bu
Trisya.
****
Satu minggu tlah berlalu....
Ini adalah hari di umumkannya
pemenang lomba cerdas cermat tingkat kota. Sepulang kuliah aku dan Bu Trisya
mendatangi tempat lomba tersebut. Semua orang telah duduk menunggu hasil keputusan
juri. Juara ketiga dan kedua telah diumumkan. Dan juri mengatakan, “Juara
Pertama diaraih oleh...................Cindy!!!!!” Aku tak menyangka aku
berhasil meraih juara pertama. Aku pun bergegas naik ke atas panggung dan
menerima piala yang tingginya sekitar 1 meter dan mendapatkan uang senilai
125juta. Aku merasa bahagia, aku merasa berhasil, aku merasa senang...benakku
berkata”Terimakasih Tuhan!!”. Tiba tiba seorang bapak berkisar umur 48 tahun,
berkumis, bertubuh tegap, memakai jas coklat menghampiriku beliau memberi
selamat kepadaku. Setelah acara selesai, bapak tersebut menghampiriku di depan
pintu masuk. Beliau memperkenalkan dirinya, beliau bernama Bapak George Daviz,
beliau adalah Mentri Sosial . Beliau menawariku untuk menjadi Duta Kemanusian
di Afrika setelah aku lulus nanti. Aku tak bisa berkata apa apa. Aku hanya
terdiam dengan mulut menganga. Aku bingung, aku bahagia, ini seperti mimpi.
Setelah aku cukup lama diam, Bapak George Daviz menanyakan lagi kepadaku,
“Bersediakah kamu?” Aku pun menjawabnya dengan hati yang gembira, “Iya pak saya
bersedia. Terimakasi pak!Terimakasih!” Bapak George Davidz memberikan kartu
namanya kepadaku dan kita pun bersalaman setelah itu kita pun berpisah. Aku
segera pulang dan tak sabar memberitahu kedua orang tuaku tentang hal ini. Aku
berlari menemui ibu dan bapak ku aku memeluk mereka dengan erat. Mereka pun
terhran heran ada apa dengan aku. Setelah aku menjelaskan semuanya ibu dan
bapak ku pun menangis bahagia sambil memelukku. Mereka berkata, “Selamat nak!!
Selamat!! Kamu dapat membuktikan nya kepada bapak dan ibu, kita bangga padamu
nak.” Kita semua pun saling berpelukkan termasuk adikku, kita semua menangis
bahagia.
****
Sepuluh bulan tlah berlalu....
Ini adalah hari kelulusanku...
Aku segera bersiap siap untuk
menanti hari kelulusanku. Aku, Ibu, bapak, dan adekku pergi ke sekolah dengan
jalan kaki. Setelah sampai, aku segera memasuki ruang kelas untuk mempersiapkan
proses wisudaku sementara ibu, bapak dan adekku menunggu di ruang wisuda.
Ibu,bapak dan adekku datang ke sekolahku untuk melihat aku di wisuda.
Setelah semua selesai, aku berjalan
menuju tempat duduk di depan panggu begitu juga dengan teman teman ku. Satu per
satu temanku telah dipanggil namanya. Setelah cukup lama aku menunggu, namaku
pun akhirnya dipanggil. Aku berdiri berjalan menuju panggung. Rektor pun
mewisuda saya. Ini menandakan saya tlah lulus dari universitas ini dan aku
berhasil mendapatkan nilai kelulusan tertinggi, aku pun merasa bahagia, aku
menangis bahagia. Aku segera menuju keluargaku menunjukkan rasa bahagiaku.
Satu bulan tlah berlalu....
Dengan segera aku menuju ke kantor
Bapak George Daviz. Di sana aku bertemu dengan beliau dan membicarakan beberapa
hal tentang perwakilanku sebagai Duta Kemanusiaan di Afrika. Beliau sudah
merencanakan bahwa bulan depan saya sudah dipastikan akan berangkat ke Afrika.
Beliau memberitahuku apasaja yang akan aku lakukan di Afrika. Setelah itu aku
pun segera pulang.
Di perjalanan aku berjalan dengan
bahagia tetapi tiba tiba terlintas di pikiranku, “Aku akan meninggalkan
keluargaku, aku akan meninggalkan kenanganku di sini” aku pun tak merasa
sebahagia tadi. Setelah sampai rumah aku bercerita kepada orangtuaku. Mereka
mengatakan, “Tak apa nak, ini demi mengejar cita-citamu jangan biarkan kami
sebagai penghalang kamu untuk mengejar cita-citamu. Tak apa biarkan kami di
sini, tapi kamu harus janji kamu harus jadi orang yang sukses yang berhasil
jangan seperti kami ini nak.” Aku pun terharu mendengar perkataan kedua orang
tuaku, aku pun menangis memeluk mereka.
****
Sebulan tlah berlalu...
Inilah saatnya aku untuk pergi
meraih cita cita ku, aku berpelukan dengan kedua orang tuaku serta adekku kita
menangis bersama. Berat rasanya meninggalkan keluargaku, tapi ini demi cita
cita ku, demi membahgiakan orantuaku, dan demi membalas jasa jasa orantuaku.
Setelah itu, aku menuju ke bandara. Di sana Bapak George Daviz tlah menunggu
ku. Aku pun mengucapkan terimakasih dan segera check in kedalam. Tepat pukul
09.00 pesawat telah lepas landas, aku melihat ke jendela, dan aku berkata dalam
hatiku “AKU BERHASIL, Terimakasi Tuhan.”