Senin, 13 Januari 2014

Cerpen - Aku Berhasil

Aku hanyalah seorang anak yang terlahir dari keluarga miskin di bagian timur kota terbesar di Indonesia yaitu Jakarta. Ayahku hanyalah seorang buruh pabrik sepatu dan ibuku hanya seorang pembantu rumah tangga. Aku memiliki seorang adik laki laki berumur 8 tahun. Aku dan keluargaku tinggal di sebuah rumah kardus di pinggir sungai. Banyak resiko yang harus kita hadapi saat tinggal di sana. Yang pertama resiko banyaknya penyakit yang dapat menyerang kita, selain itu tinggal di pinggiran sungai dapat menimbulkan resiko hanyut terbawa air. Hidupku sangat sederhana dan penuh dengan kekurangan. Terkadaang aku selalu memandang ke depan. AKU HARUS BERHASIL!!!! Berhasil meraih cita cita ku!!! Aku tak ingin terus menerus hidup seperti ini. Aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku, aku ingin membalas jasa jasa orang tuaku, aku tak ingin selalu membebankan kedua orang tuaku.
            Aku seorang mahasiswa di sebuah universitas negeri jurusan sosial politik, sekarang aku memasuki semester  8. Hari ini adalah hari pertama masuk kuliah setelah libur panjang. Saat ku melangkah memasuki gerbang kuliah, aku sudah mendengar berbagai ejekan serta cemohan dari teman temanku. Sejak awal aku kuliah di sini aku sudah mendapatkan cemohan dan ejekan, sehingga aku sudah terbiasa mendengar hal itu semua. Hanya aku....hanya aku yang mendapatkan berbagai cemohan dan ejekan dari teman temanku. Mereka sering mengejekku dengan ejekkan mereka yang mengatakan bahwa aku hanyalah kotoran yang mengotori kuliah  ini. Benakku selalu bertanya-tanya, “Apa karena aku satu satunya seorang anak miskin yang kuliah di universitas terbagus, terelit, dan termahal di Jakarta ini??? Apa seorang anak miskin sepertiku ini tak pantas kuliah di universitas ini???” Walaupun berbagai cemohan dan ejekan datang menghampiriku, aku akan tetap bertahan di universitas ini aku tak akan menyianyiakan beasiswaku ini. Tujuan utamaku bersekolah agar aku dapat meraih cita citaku, bukan untuk mencari teman atau yang lainnya, aku harus fokus pada tujuan utamaku untuk meraih cita citaku. Dalam hal pertemanan atau pergaulan aku mengakui aku memang kalah dengan teman temanku yang lainnya tetapi dalam hal prestasi, aku tak mau kalah dengan mereka.
            Saat istirahat aku melewati ruang dosen tiba tiba Bu Trisya dosen fisika ku memanggil namaku, “Cindy!!” beliau menawariku untuk menjadi perwakilan dalam lomba cerdas cermat tingkat kota. Aku ingin sekali mengikuti lomba ini, tapi dengan tegas aku mengatakan, “Tidak”. Aku tau lomba ini akan membutuh dana yang cukup besar. Aku memahami orangtuaku yang tak memiliki banyak uang. Lalu Bu Trisya menjelaskan kepadaku, “Semua biaya akan di tanggung oleh sekolah”. “Alhamdulillah!” aku mengatakannya dalam benakku. Aku pun menyanggupi untuk mengikuti lomba cerdas cermat  yang akan diadakan 2 bulan lagi. Bu Trisya memilihku karena beliau percaya bahwa saya mampu untuk menghadapi lomba cerdas cermat ini dan menurut beliau aku marupakan anak yang cerdas karena selalu meraih peringkat satu di kelas dan hanya aku satu satunya anak yang pernah mengikuti program akselerasi. Aku beruntung terpilih menjadi perwakilan lomba ini dengan aku mengikuti lomba ini aku dapat mengasah kemampuanku. Aku pun tak sabar memberitahu orangtuaku.
Sebelum pulang untuk memberitahu kabar ini ke orangtuaku, seperti biasa setiap pulang sekolah aku selalu membantu orantuaku dengan mengamen dari satu rumah ke rumah lainnya mencari selembar uang yang dapat meringankan beban orang tuaku. Biasanya sambil mengamen aku melihat berbagai kehidupan sosial yang dijalani beberapa orang, dan ini menambah inspirasi hobiku. Hobiku adalah menggambar. Dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun aku selalu membawa peralatan menggambarku. Di waktu luang aku selalu menyempatkan diriku untuk menggambar. Aku paling suka menggambar tentang berbagai kehidupan sosial yang di jalani oleh beberapa orang. Apapun yang aku gambar salalu ku pajang di dinding dinding kardus kamarku. Hingga sekarang sudah ada puluhan gambar kehidupan sosial yang aku pajang. Dengan memandangi gambarku tentang kehidupan sosial ini membuatku semakin bersemangat belajar untuk meraih cita-citaku sebagai Duta Kemanusiaan yang bertujuan mensejahterahkan kehidupan masyarakat yang ada di gambarku. Aku pernah mengikuti lomba menggambar dan alhamdulillah aku meraih juara II. Sejak saat itu aku pun terus mengasah kemampuanku menggambar.
****
            Setelah terpilihnya aku menjadi perwakilan dalam lomba cerdas cermat aku mendapatkan tambahan pelajaran dari Bu Trisya. Aku mendapatkan pelajaran berupa pelajaran yang akan di ujikan pada cerdas cermat yang akan aku ikuti. Bu Trisya satu satunya dosen yang mengerti aku dan baik padaku. Bu Trisya senantiasa membimbingku dalam menghadapi lomba cerdas cermat tersebut.
            Hari demi hari tlah berlalu, minggu demi minggu tlah beralu....
Kurang dari 1 minggu lagi aku akan menghadapi lomba cerdas cermat tingkat kota. Aku semakin meningkatkan belajarku. Aku tak mau....tak mau mengecewakan orang orang yang telah mendukungku sepenuhnya, tak mau mengecewakan Bu Trisya, tak mau mengecewakan orangtuaku, dan tak mau mengecewakan sekolahku. Aku harus BISA menjadi JUARA!! Aku akan lebih keras berusaha.
            Hari yang di tunggu tunggu pun tlah tiba. Hari ini adalah hari lomba cerdas cermat dilaksanakan. Aku mendapatkan nomer urut 081098. Aku berharap nomer ini menjadi nomer keberuntunganku. Setelah bersiap siap, tepat pukul 08.00 Bu Trisya menjemputku menggunakan sepeda motor. Beliau yang mengantar sekaligus menemaniku saat lomba. Saat sampai di tempat aku bergegas memasuki ruangan yang setengah jam lagi lomba akan dimulai, Bu Trisya pun menunggu ku di luar. Aku menghadapi berbagai macam soal mulai dari mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, hingga Ilmu Sosial. Aku mengerjakannya dengan santai ada beberapa soal yang tak bisa kukerjakan, walaupun begitu aku tak menyotek ke teman sebelah ku aku menyadari kejujuran adalah yang utama bukanlah menang atau kalah. “Teeeeng....Teeeeng....!!” Bel berbunyi menandakan waktu mengerjakan telah selesai aku segera mengumpulkan lembar jawabanku. Pemenang lomba akan diumumkan satu minggu setelah pelaksaan lomba. Dan aku pun segera pulang, di perjalanan aku bercerita banyak kepada Bu Trisya.
****
            Satu minggu tlah berlalu....
            Ini adalah hari di umumkannya pemenang lomba cerdas cermat tingkat kota. Sepulang kuliah aku dan Bu Trisya mendatangi tempat lomba tersebut. Semua orang telah duduk menunggu hasil keputusan juri. Juara ketiga dan kedua telah diumumkan. Dan juri mengatakan, “Juara Pertama diaraih oleh...................Cindy!!!!!” Aku tak menyangka aku berhasil meraih juara pertama. Aku pun bergegas naik ke atas panggung dan menerima piala yang tingginya sekitar 1 meter dan mendapatkan uang senilai 125juta. Aku merasa bahagia, aku merasa berhasil, aku merasa senang...benakku berkata”Terimakasih Tuhan!!”. Tiba tiba seorang bapak berkisar umur 48 tahun, berkumis, bertubuh tegap, memakai jas coklat menghampiriku beliau memberi selamat kepadaku. Setelah acara selesai, bapak tersebut menghampiriku di depan pintu masuk. Beliau memperkenalkan dirinya, beliau bernama Bapak George Daviz, beliau adalah Mentri Sosial . Beliau menawariku untuk menjadi Duta Kemanusian di Afrika setelah aku lulus nanti. Aku tak bisa berkata apa apa. Aku hanya terdiam dengan mulut menganga. Aku bingung, aku bahagia, ini seperti mimpi. Setelah aku cukup lama diam, Bapak George Daviz menanyakan lagi kepadaku, “Bersediakah kamu?” Aku pun menjawabnya dengan hati yang gembira, “Iya pak saya bersedia. Terimakasi pak!Terimakasih!” Bapak George Davidz memberikan kartu namanya kepadaku dan kita pun bersalaman setelah itu kita pun berpisah. Aku segera pulang dan tak sabar memberitahu kedua orang tuaku tentang hal ini. Aku berlari menemui ibu dan bapak ku aku memeluk mereka dengan erat. Mereka pun terhran heran ada apa dengan aku. Setelah aku menjelaskan semuanya ibu dan bapak ku pun menangis bahagia sambil memelukku. Mereka berkata, “Selamat nak!! Selamat!! Kamu dapat membuktikan nya kepada bapak dan ibu, kita bangga padamu nak.” Kita semua pun saling berpelukkan termasuk adikku, kita semua menangis bahagia.
****
            Sepuluh bulan tlah berlalu....
            Ini adalah hari kelulusanku...
            Aku segera bersiap siap untuk menanti hari kelulusanku. Aku, Ibu, bapak, dan adekku pergi ke sekolah dengan jalan kaki. Setelah sampai, aku segera memasuki ruang kelas untuk mempersiapkan proses wisudaku sementara ibu, bapak dan adekku menunggu di ruang wisuda. Ibu,bapak dan adekku datang ke sekolahku untuk melihat aku di wisuda.
            Setelah semua selesai, aku berjalan menuju tempat duduk di depan panggu begitu juga dengan teman teman ku. Satu per satu temanku telah dipanggil namanya. Setelah cukup lama aku menunggu, namaku pun akhirnya dipanggil. Aku berdiri berjalan menuju panggung. Rektor pun mewisuda saya. Ini menandakan saya tlah lulus dari universitas ini dan aku berhasil mendapatkan nilai kelulusan tertinggi, aku pun merasa bahagia, aku menangis bahagia. Aku segera menuju keluargaku menunjukkan rasa bahagiaku.
            Satu bulan tlah berlalu....
            Dengan segera aku menuju ke kantor Bapak George Daviz. Di sana aku bertemu dengan beliau dan membicarakan beberapa hal tentang perwakilanku sebagai Duta Kemanusiaan di Afrika. Beliau sudah merencanakan bahwa bulan depan saya sudah dipastikan akan berangkat ke Afrika. Beliau memberitahuku apasaja yang akan aku lakukan di Afrika. Setelah itu aku pun segera pulang.
            Di perjalanan aku berjalan dengan bahagia tetapi tiba tiba terlintas di pikiranku, “Aku akan meninggalkan keluargaku, aku akan meninggalkan kenanganku di sini” aku pun tak merasa sebahagia tadi. Setelah sampai rumah aku bercerita kepada orangtuaku. Mereka mengatakan, “Tak apa nak, ini demi mengejar cita-citamu jangan biarkan kami sebagai penghalang kamu untuk mengejar cita-citamu. Tak apa biarkan kami di sini, tapi kamu harus janji kamu harus jadi orang yang sukses yang berhasil jangan seperti kami ini nak.” Aku pun terharu mendengar perkataan kedua orang tuaku, aku pun menangis memeluk mereka.
****
            Sebulan tlah berlalu...
            Inilah saatnya aku untuk pergi meraih cita cita ku, aku berpelukan dengan kedua orang tuaku serta adekku kita menangis bersama. Berat rasanya meninggalkan keluargaku, tapi ini demi cita cita ku, demi membahgiakan orantuaku, dan demi membalas jasa jasa orantuaku. Setelah itu, aku menuju ke bandara. Di sana Bapak George Daviz tlah menunggu ku. Aku pun mengucapkan terimakasih dan segera check in kedalam. Tepat pukul 09.00 pesawat telah lepas landas, aku melihat ke jendela, dan aku berkata dalam hatiku “AKU BERHASIL, Terimakasi Tuhan.”

            

Kamis, 10 Januari 2013

CERPEN - Keiklasan yang Memberikan Keberkahan


Teng... Teng...
Lonceng sebuah sekolah menengah pertama di sebuah desa berbunyi tepat pukul jam setengah 12 siang dan menandakan waktunya untuk istirahat. Semua kegiatan belajar mengajar dihentikan sejenak. Beberapa siswa keluar dari kelas untuk menghabiskan waktu istirahat mereka. Ada yang membeli beberapa makanan atau minuman di kantin sekolah, ada yang pergi ke kelas temannya, dan ada juga yang ke masjid untuk melaksanakan ibadah sholat dhuhur. Saudara kembar Alin dan Alis beserta dua temannya Rina dan Grace segera merapikan meja mereka dan memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas mereka masing-masing setelah lonceng sekolah berbunyi. Lalu, mereka mengambil mukenah milik mereka masing-masing dari dalam tas dan segera menuju ke masjid untuk melaksanakan ibadah sholat dhuhur.
Alin dan Alis yang duduk di kelas 8 A dan jarak kelas mereka sedikit jauh dari masjid yang ada di sekolah mereka. Bersama Rina dan Grace, Alin dan Alis menuju ke masjid sambil berbincang-bincang dan bercanda tawa. Tidak lama kemudian mereka pun sampai di sebuah masjid yang tidak terlalu besar dan letakya berdekatan di kelas 9 C. Mereka segera menghentikan perbincangan dan melepas sepatu beserta kaos kaki yang mereka pakai. Alis yang terlebih dulu selesai melepas kaos kaki dan sepatu segera mengajak saudara kembarnya dan juga teman-temannya masuk ke dalam masjid untuk mengikuti ibadah sholat dhuhur berjamaah. Alis berkata, “Ayo guys, cepetan masuk! Nanti kita tertinggal sholat dhuhur berjamaah, kalo kalian masih lama aku duluan aja deh.”
“Iya tunggu sebentar lis, ini uda paling cepet.” Balas alin yang sambil melepas kaos kakinya.
Karena tidak mau menunggu Alin, Rina, dan Grace yang lebih lambat dari Alis, ia memutuskan untuk masuk ke dalam masjid terlebih dahulu. Tidak lama setelah itu Alin, Rina, dan Grace selesai melepas kaos kaki segera masuk ke dalam masjid dan menyusul Alis yang terlebih dulu masuk ke dalam masjid.
Alis yang di dalam masjid terlebih dulu menunggu di ruang tengah masjid dan menaruh mukenahnya di tempat itu terkejut saat Alin, Rina, dan Grace mengejutkannya. Merekapun tertawa kecil di ruang tengah masijid tersebut.  Alis, Alin, Rina, dan Grace segera menghentikan tawanya dan menaruh mukanah di sebelah mukenah milik Alis. Setelah itu, mereka menuju ke tempet wudhu untuk mengambil air wudhu sebelum melaksanakan ibadah sholat dhuhur berjamaah. Air wudhu yang jernih, dingin, dan segar membasuhi hampir seluruh bagian tubuh mereka membuat tubuh mereka lebih segar dan bersemangat.
“Hi...dingin banget ya air wudhunya tapi rasanya segar banget pas uda wudhu gini.” Ungkapan kagum Rina.
Setelah air wudhu yang jernih dan dingin tersebut membasuhi hampir seluruh tubuh mereka, meraka kembali ke ruang tengah masjid tempat dimana mereka meletakkan mukenah milik mereka. Kemudian, mereka mengikuti ibadah sholat dhuhur secara berjamaah. Sekitar 15 menit kemudian, ibadah sholat dhuhur berjamaah telah selasai dilaksanakan Alis, Alin, Rina, dan Grace segera merapikan mukenah yang tadi mereka pakai untuk melaksanakan ibadah sholat dhuhur. Lalu memakai kaos kaki dan sepatu milik mereka masing-masing dan segera kembali ke kelas.
***
Tidak seperti kelas lainnya yang banyak murid di dalamnya, kelas 8 A tampak terlihat sepi tidak ada satu pun murid yang berada di dalam kelas 8 A. Tidak lama, Alis, Alin, Rina, dan Grace masuk ke dalam kelas 8 A yang sepi tersebut dan duduk di bangku mereka masing-masing. Dan kebetulan Rina dan Grace duduk di belakang bangku Alis dan Alin sehingga duduk mereka berempat berdekatan dan jika mereka ingin berkumpul mereka hanya perlu duduk di bangku mereka masing-masing. Alis, Alin, Rina, dan Grace memasukkan mukenah mereka ke dalam tas mereka masing-masing dan mengambil kotak bekal dari dalam tas yang biasanya mereka bawa dari rumah. Tapi tidak seperti yang lainnya, Grace yang dari tadi menggeledah tasnya tidak mengeluarkan bekal yang ia bawa tiap harinya.
“Loh Grace.. mana bekalmu? Kok gak dikeluarkan? Takut aku minta ya? Tenang saja, aku bawa bekal sendiri kok hari ini dan aku yakin bekal ku lebih enak dari punyamu he..he...” Tanya Rina kepada Grace dengan sedikit menyindir.
Grace menjawab dengan ragu,“Sepertinya bekalku tertinggal di rumah.”
“Kok bisa?” Tanya Alin yang mulutnya terisi dengan nasi bekal yang ia bawa.
“Mungkin akunya yang lupa memasukkannya ke dalam tas, padahal tadi mamaku sudah disiapkan sama mamaku L.” Grace menjawab pertanyaan dari Alin dengan wajah sedih.
“Ya sudah ini... kita makan bekalku.” Rina menawarkan kepada Grace sambil menjulurkan bekal yang ia bawa. Dan grace pun tidak menolak tawaran yang diberikan oleh Rina. Lalu, Alis, Alin, Rina, dan Grace pun makan bersama-sama di meja mereka masing-masing sambil berkelompok.
Seketika kelas yang awalnya hanya ada Alis, Alin, Rina, dan Grace menjadi ramai. Alis, Alin, Rina, dan Grace awalnya terheran-heran karena tiba-tiba teman sekelasnya datang secara bersama-sama. Rupanya teman-teman sekelas Alis, Alin, Rina, dan Grace sedang mempersiapkan kejutan yang akan diberikan kepada Icha teman sekelas mereka yang pada hari itu sedang ulang tahun. Teman-teman sekelas Alis, Alin, Rina, dan Grace yg sedang menyiapkan kejutan untuk Icha, segera menyalakan lilin di atas kue tart besar dan tertuliskan “SELAMA ULANG TAHUN ICHA”. Dan tidak lama setelah itu, Icha datang semua serentak menyanyikkan lagu selamat ulang tahun kepada Icha. Alis kagum melihat kue tart besar dan terlihat lezat yang akan diberikan kepada Icha dan berkata, “Waw..kue tart nya besar sekali ya... pasti harganya mahal, belinya pun pasti gak di sembarang tempat.”
“Ya pastilah, kamu gak bakalan bisa beli kue tart yang kayak gitu.” Sindiran dari Mira, salah satu teman sekelas Alis, Alin, Rina, dan Grace yang tidak begitu suka dengan mereka yang tiba-tiba datang ke meja mereka berempat.
“Terus masalah buat kamu?” Alisa membalas dengan nada marah.
“Enggak sih, tapi aku kasihan aja sama kamu.. ha..ha..ha..” Mira melanjutkan sindirannya sambil berjalan menjauh.
Alis pun bertambah marah “Iiihh..awas kamu!! Nanti.....” “Sudah-sudah lis, hiraukan aja, yuk kita lanjutkan makan kita.” Sahut Alin yang menyela Alis.
Alis, Alin, Rina, dan Grace melanjutkan makan mereka sambil berbincang-bincang dan bercanda tawa hingga bekal makanan yang mereka bawa habis, dan segera memasukkan kotak bekal mereka ke dalam tas mereka masng-masing.

***
Teng.. Teng.. tidak lama setelah Alis, Alin, Rina, dan Grace menghabiskan makanan- nya bel sekolah berbunyi dan menandakan waktu untuk istirahat telah habis.  Siswa-siswi yang lain segera kembali ke kelas mereka masing-masing untuk mengikuti kegiatan belajar yang akan berlangsung setelah bel yang menandakan waktu istirahat habis berbunyi. Pelajaran pun berlangsung hingga pukul 2 siang.
Teng.. Teng.. tepat pukul 2 siang bel sekolah berbunyi menandakan waktunya untuk pulang. Pelajaran yang sedang berlangsung pun dihentikan dan dilanjutkan hari esok. Semua murid segera mengemasi buku pelajaran beserta alat tulis. Mereka memasukkan buku pelajaran dan alat tulis ke dalam tas mereka masing-masing dan segera pulang. Sebelum murid-murid pulang, seperti biasanya mereka harus memberikan salam kepada guru yang mengajar pada pelajaran terakhir.
Seperti biasa Alin dan Alis berjalan pulang ke rumah sementara Rina dan Grace dijemput oleh orang tuanya. Mereka berempat selalu mengucapkan “See You” untuk satu sama lain sebelum mereka pulang. Mereka selalu mengucapkan “see you” karena mereka selalu berharap dapat bertemu dan berkumpul bersama lagi pada hari esok, begitu lah prinsip mereka berempat.
Alin dan Alis berjalan melewati jalan yang biasanya mereka lewati saat berangkat dan pulang sekolah. Di tengah perjalanan Alis membahas kue tart milik Icha tadi sementara Alin hanya menanggapinya dengan hal positif. Tiba-tiba Alin teringat bahwa ada sebuah toko baru di dekat perempatan jalan yang biasanya Alin dan Alis lewati karena penasaran akan toko baru tersebut Alin menyarankan agar melihat toko tersebut dan Alis pun menyetujui. Sekitar 5 menit kemudian, mereka sampai di sebuah toko berwarna ungu muda bercampur warna kuning yang telah dipadati oleh banyak orang tetapi Alin dan Alis harus berdesakan untuk melihat apa yang dijual di toko baru tersebut karena terlalu banyak orang yang memadati toko tersebut.
Sekian lama Alin dan Alis dan akhirnya mereka sampai di depan pintu toko baru tersebut. Mereka seakan terkejut melihat toko tersebut karena begitu indah dan bagus toko baru tersebut. Lalu, mereka memutuskan untuk melihat-lihat sebentar apa yang dijual di dalam toko baru tersebut. Setelah mereka masuk ke dalam toko, mereka baru tahu kalo toko baru tersebut menjual roti. Tiba-tiba Alis berlari ke sebuah lemari kaca yang dalamnya terdapat sebuah kue tart yang indah dan mirip seperti milik Icha. Alis memutuskan untuk membeli kue tart itu . “Lin, Aku ingin membeli kue tart itu.” Alin mengingatkannya bahwa mereka sedang krisis uang sehingga sedikit kemungkinan mereka bisa membeli kue tart tersebut. “Tapi lis, uang kita tinggal sedikit. Nanti kita bicarakan lagi dirumah aja.” Merekapun segera pulang setelah menghilangkan rasa penasaran mereka akan toko baru tersebut.
Ibu Alis dan Alin yang telah menunggu di depan rumah menyambut mereka saat mereka baru pulang dari sekolah. Tidak lupa dan seperti biasa Alis dan Alin  selalu mengucapkan salam kepada ibunya dan ibu mereka pun membalasnya dengan salam juga. Setelah itu, Alis dan Alin menuju ke kamarnya dan membicarakan tentang kue tart yang dijual di toko baru tadi. Alis yang ingin sekali membeli kue tart tersebut mengawali pembicaraan mereka dengan menanyakan, “Apa yang harus aku lakukan lin? Aku ngin beli kue tart yang tadi.”
“Aku tau kamu sangat menginginkan kue tart itu tapi kita ini lagi gak punya uang lis. Apa kita mau minta ke ibu? Kamu tau kan dari kemarin ibu mengeluh tentang biaya sekolah kita? apalagi kita mau minta uang ke ibu, beban ibu pasti bertambah lis dan kita gak mungkin minta uang ke ibu jika kita gak mau menyusahkan ibu. Kalau kita mau beli kue tart itu, kita harus pakai uang kita sendiri. Aku gak mau menambah beban ibu. Kita harus bherusaha sendiri lis.” Ujar Alin berusaha menjelaskan kepada alisa.
Tetapi Alis tetap ingin membeli kue tart tersebut, lalu ia menanyakan solusi apa yang akan mereka lakukan. “Iya sih lis, terus sekarang kita harus ngapain? Solusinya gimana?”. Alin pun dengan bijak memberikan solusi yang tepat, “Gimana kalo tiap hari kita sisakan uang jajan kita untuk ditabungkan? Nih aku punya kaleng bekas. Lumayan, bisa buat tempat celengan”.
Alis pun setuju dengan solusi yang diberikan oleh Alin. Setelah semua teratasi mereka pun mulai menyisihkan uang jajan mereka hari itu juga. Lalu, mereka segera ganti baju dan melakukan kegitan yang biasanya mereka lakukan.
Ke esokan paginya Alis dan Alin berangkat sekolah dengan semangat. Mereka melewati toko kue yang menjual kue tart yang akan mereka beli dan terus berjalan menuju ke sekolah. Pukul 7 tepat sekolah dimulai dan pelajaran berlangsung hingga jam istirahat. Diwaktu istirahat sedang berlangsung, Alis hampir saja menghabiskan uanng jajannya. Dan untung, Alin selalu mengingatkan Alis agar menyisihkan uang jajan nya untuk ditabungkan.
Waktu pun cepet berlalu hingga bel sekolah berbunyi dan menandakan waktu pulang sekolah telah tiba. Alis dan Alin bergegas pulang dan berjalan melewati toko kue baru itu dan sejenak mampir masuk ke dalam.  Setelah sampai di rumah dan masuk ke kamar mereka mengeluarkan uang jajan yang mereka sisih kan. “Eh lin, lihat nih uang jajan ku sisa 8000.” Ujar Alisa sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam uang 8000. Lalu Alin pun menanggapinya dengan berkata, “Alhamdulillah, aku ada 10.000 nih.” Merekapun langsung memasukkan uang mereka ke dalam celengan kaleng.
Setiap hari, tidak lupa Alis dan Alin selalu menyisihkan uang jajan nya walaupun terkadang Alis dan Alin sampai tidak jajan di sekolah. Dan mereka selalu mampir untuk melihat-lihat toko kue baru yang ada di perempatan jalan itu. Hampir tidak terasa sudah satu bulan mereka menabung uang yang mereka kumpulkan sudah lumayan banyak. “Wah Lis lihat, nih uang kita sudah terkumpul 280.000.” Ujar Alin setelah menghitung jumlah uang yang mereka tabung.
Alis pun terdengar senang “Iya ya lin, Alhamdulillah. Kurang beberapa minggu lagi kita bisa beli kue tart yang kayak punyanya Icha, horay...”
          Beberapa hari setelah itu, Alin dan Alis akan melaksanakan Ujian Akhir Semester dan harus melunasi SPP bulan Desember. Sementara ibu Alin dan Alis sedang tidak ada uang. Setelah tau keadaan keuangan ibunya. Alin menyarankan, “Kita pakai uang tabungan kita dulu ya lis, dari pada kita gak ikut Ujian Akhir Semester”. Dan Alis pun menyetujuinya. Masalah yang mereka hadapi pun terselesaikan.
Suatu hari, ibu Alin dan Alis jatuh sakit dan harus segera dibawa ke rumah sakit sementara uang cadangan ibu mereka habis, sehingga mereka memakai uang tabungan mereka lagi demi membayar biaya rumah sakit ibunya.
***
Satu bulan setelah itu, tepatnya pada hari sabtu....
          Alin dan Alis berangkat ke sekolah seperti biasa dan mereka selalu melewati jalan yang sama menuju ke sekolah serta tidak lupa mereka selalu melihat toko kue yang ada di perempatan jalan.
          Di waktu istirahat sebelum Alin, Alis, Grace, dan Rina pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat dhuhur Alis menyarankan kepada Alin, “Eh..lin.. gimana kalau nanti kita buka celengan kita dan kita hitung uangnya? Kita sudah nabung cukup lama, pasti jumlah uang tabungan kita banyak dan kita  bisa beli kue yang mirip seperti miliknya Icha.”
“Iya terserah kamu saja lis, aku ikut saja.” Alin menjawab sambil mengeluarkan mukenahnya dari dalam tas.
Lalu, Alin, Alis, Grace, dan Rina bergegas berangkat ke masjid. Setelah selesai, mereka kembali ke kelas dan melakukan kegiatan yang biasanya mereka lakukan,
***
Teng.. Teng.. waktu menunjukkan pukul 2 siang dan menandakan waktunya untuk pulang. Ain dan Alis bergegas berjalan pulang, mereka sejenak melihat toko kue yang ada di perempatan jalan.  Setelah sampai rumah, mereka segera ke kamar dan menghitung jumlah uang yang ada di celengan mereka. Dan, “Alhamdullillah uang kita sudah berkumpul 340.000.” Ucap syukur Alin. Dengan uang yang berjumlah begitu banyak mereka segera berganti baju dan berjalan ke toko kue yang ada di perempatan jalan. Sekitar 10 menit, mereka sampai di depan toko kue tersebut dan segera masuk ke dalam. Mereka menyempatkan untuk melihat-lihat kue tart yang lain yang di jual di toko kue tersebut. Rupanya, ada kue tart yang lebih bagus daripada kue tart yang mirip seperti milik Icha. Dan Alis pun langsung menghentikan minatnya untuk membeli kue tart yang mirip seperti miliknya Icha dan beralih minat untuk membeli kue tart yang menurutnya lebih bagus daripada kue tart yang mirip seperti milik Icha. “Terserah kamu.” Alin menanggapinya dengan polos.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk membeli kue tart yang ingin Alis beli. “berapa harga kue itu mbak?” tanya Alis yang sudah tidak sabar untuk membeli kue tersebut.
“Harganya 300.000 dek.” Pramuniaga toko tersebut menjawab
“Biklah, Kami ambil kue itu ya mbak. Ini uangnya!”. Alin membalas sambil mengulurkan tangannya yang terdapat uang 300.000
Sekitar 15 menit kue tart yang mereka beli pun sudah terbungkus kotak yang berhiaskan bunga putih biru sehingga terlihat lebih indah dan cantik. Lalu mereka segera pergi meninggalkan toko kue tersebut dan berfikir sejenak dimana tempat yang cocok untuk memakan kue tar tersebut. “Gimana kalau si pos ronda dekat RW 6?” Saran Alin. “Okay!” Alis membalasnya. Merekapun segera ke pos ronda RW 6.
Setelah mereka sampai di pos ronda RW 6, mereka segera membuka kotak yang membungkus kue yang mereka beli tadi. Tiba-tiba Seorang bapak tua bersama keluarganya yang memakai baju robek-robek menyela ke gembiraan Alin dan Alis dan berkata, “Nak boleh minta kue nya? Kami lapar, kami tidak makan hampir 2 hari.”
“Emhh...” Alis ragu.
“Sudah lis kita kasih aja bapak itu semua kue tarnya, nantikan kita bisa beli lagi. Semetara bapak itu dan keluarganya tidak makan hampir 2 hari.” Alin dengan bijak ingin memberikan kue tersebut.
Alis dengan tegas menjelaskan kepada Alin , “Tapi kan lis.. kita sudah lama menatikan kue tart ini, kita uda nabung berbulan-bulan, kita uda gak jajan berhari-hari. Masa’ kamu mau langsung memberikan kue tart yang susah kita dapat kan ini kepada bapak itu dan keluarganya.”
“Sudah lah, kita kan bisa menabung lagi nanti dan bisa beli kue tart lagi. Nah sementara bapak itu dan keluarganya kasian lis. Memberikan hal yang berharga milik kita untuk orang lain pahalanya besar dan Allah pasti memberikan keberkahan kepada hamba-hambanya yang tulus memberikan hal yang berharga miliknya sendiri untuk orang lain”. Sekali lagi Alin menjelas kan lebih detail dengan bijak.
Alis hanya menjawab singkat , “Baik lah.”
Mereka pun setuju memberikan kue tar yang mereka beli tadi kepada bapak itu dan keluarganya dengan iklas.
“Alhamdulillah. Terima kasih nak, kalian memang anak-anak yang baik. Suatu hari nanti Allah pasti membalas kebaikkan kalian.” Dengan bahagia bapak itu mengucapkan terimakasih sambil menangis.
“Iya pak.” Alin membalas dengan senyum.
Lalu, mereka segera pulang ke rumah. Tetapi, Alis sedikit kesal dengan keputusan yang diberikan oleh Alin. Namun, Alin pun berusaha memberikan penjelasan lagi kepada Alis hingga Alis dapat menerimanya dengan iklas.

***
          Hari ini adalah hari Jum’at, 6 hari setelah kejadian itu dan hari ini adalah tanggal 08 Oktober tepat hari ulang tahun Alis dan Alin. Sejak pagi semua berjalan normal seperti tidak ada yang aneh pada hari itu menurut mereka berdua. Tetapi tiba-tiba saat pulang sekolah, teman-teman sekelas mereka serentak memberikan keutan kepada Alis dan Alin. Teman-teman sekelas mereka memberikan Alin dan Alis kue tart yang lebih bagus dan lebih indah dari kue tart yang mereka pernah beli.
Di sini lah Alis menyadari, “Lin benar apa katamu Allah pasti memberikan keberkahan kepada hamba-hambanya yang tulus memberikan hal yang berharga miliknya sendiri untuk orang lain. Maaf ya waktu itu aku sempat kesal denganmu, aku menyadari perbuatan baik pasti ada berkah yang akan kita terima suatu hari.”
“Iya J aku tau kok J ” Alin menjawab dengan senyum yang lebar.
Akhirnya Alin dan Alis merayakan uangtahun mereka bersama teman-teman sekelas mereka.


------------------

Jumat, 25 Mei 2012

BRITNEY SPEARS - EVERYTIME LYRICS

Notice me
Take my hand
Why are we
Strangers when
Our love was strong
Why carry on without me

Everytime I try to fly I fall
Without my wings
I feel so small
I guess I need you baby 
And everytime I see
Your in my dreams
I see your face
Its haunting me
I guess I need you baby

I make-believe
That you are here
Its the only way 
That I see clear
What have I done
You seem to move on easy

Everytime I try to fly I fall
Without my wings
I feel so small
I guess I need you baby 
And everytime I see
Your in my dreams
I see your face
Your haunting me
I guess I need you baby

I may have made it rain
Please forgive me
My weakness Caused you pain
And this song's my sorry

At night I pray
That soon your face will fade away

Everytime I try to fly I fall
Without my wings
I feel so small
I guess I need you baby 
And everytime I see
You ruin my dreams
I see your face
Your haunting me
I guess I need you baby

Katty Perry - Waking Up In Vegas


You gotta help me out
It's all a blur last night
We need a taxi 'cause you're hung-over and I'm broke
I lost my fake ID but you lost the motel key
Spare me your freakin' dirty looks
Now don't blame me
You want to cash out and get the hell out of town


[Chorus:]
Don't be a baby
Remember what you told me
Shut up and put your money where your mouth is
That's what you get for waking up in Vegas
Get up and shake the glitter off your clothes now
That's what you get for waking up in Vegas



Why are these lights so bright?
Oh, did we get hitched last night dressed up like Elvis?
Why am I wearing your class ring?
Don't call your mother
'cause now we're partners in crime



[Chorus]



You got me into this
Information overload, situation lost control
Send out an S.O.S.
And get some cash out
We're gonna tear up the town



Don't be a baby
Remember what you told me [x3]
Told me, told me...
Shut up and put your money where your mouth is
That's what you get for waking up in Vegas
Get up and shake the glitter off your clothes, now
That's what you get for waking up in Vegas
That's what you get, baby
Shake the glitter, shake, shake, shake the glitter, c'mon!
Give me some cash out, baby
Give me some cash out, baby

Kamis, 17 Mei 2012

Banmal Song ♫

Pertama ku melihatmu kau tersenyum cerah tapi tersipu malu
Hari demi hari kita smakin dekat kau membuat hatiku berdebar
Ku harus berkata apa, Bagaimana cara buat mu tertawa
Ku tak terbiasa menggenggam tanganmu
hanya bisa tersenyum malu

Semoga kita bisa bicara dengan nyaman
Meski sulit bagimu yang tak terbiasa
tak hanya sekedar trimakasih
ku ingin yang lebih dari itu.  .  .

Semoga kita bisa bicara dengan nyaman
Mendekatlah perlahan padaku
Tatap lah kedua mata
dan katakan SHARANGHAE.  .  .

Saat ku genggam tanganmu detak jantungku terasa berhenti
takbisa ku ingin yang aku katakan, ku hanya gugup dan membisu


Semoga kita bisa bicara dengan nyaman
Meski sulit bagimu yang tak terbiasa
tak hanya sekedar trimakasih
ku ingin yang lebih dari itu.  .  .

Semoga kita bisa bicara dengan nyaman
Mendekatlah perlahan padaku
Tatap lah kedua mata
dan katakan SHARANGHAE.  .  .

Aku ingin kita berdua saling mencintai
Tak kan pernah ku lepas genggaman tangan mu
Kedua mata mu menatapku hanya ada bahagia disana

Aku ingin kita berdua saling mencintai
Kan kujaga dirimu slamanya
dak ku kata SHARANGHAE.  .


Minggu, 11 Maret 2012

So Listen Lyrics

[Cody Simpson]
I've been trying to find the right words
But they always seem to hit the page wrong
You see I tend to fight words
You breathe 'em into life, and they're gone
I need some louder speaking actions
They do what letters could never do
You see, you are my addiction
I need more than words to show you

So listen to me, so listen
Listen to my heartbeat

I'd like to think you understand me
But I never really like to assume
So you never have to ask me
I'mma let my actions tell you the tru-hu-huth

For you-hu-hu-hu
There is nothing I wouldn't go through-hu-hu-hu
And if you need some proo-hu-hu-oof
You can find it in what I do-hu-hu-hu

Listen to me baby
And I could tell you everyday
Just how much I want you
I-I-I-I I've never been good with words
But I went and wrote this song for you

So listen to me, so listen
Listen to my heartbeat
So listen to me, so listen
Listen to my heartbeat

[T-Pain]
Ba-ba-baby I need you to listen, open up your ears
Pay attention, let go off your fears
I'm not trying to be that dude that got these people in your business
I'm just trying to love you, can I go a witness? oohhh
Le le le le le let the church say amen! (amen)
Cause I know that you need a man! (a man)
And Im gon' do whatever I can
To stop with all the dissin'
Get to the kissin'
Baby you know whatchu missin'!

So listen to me, so listen
Listen to my heartbeat
So listen to me, so listen
Listen to my heartbeat
Listen to my heartbeat
Listen to my heartbeat

Big Girls Dont Cry lyris

Da Da Da Da
The smell of your skin lingers on me now
You're probably on your flight back to your home town
I need some shelter of my own protection baby
To be with myself and center, clarity
Peace, Serenity

[CHORUS:]
I hope you know, I hope you know
That this has nothing to do with you
It's personal, myself and I
We've got some straightenin' out to do
And I'm gonna miss you like a child misses their blanket
But I've got to get a move on with my life
It's time to be a big girl now
And big girls don't cry
Don't cry
Don't cry
Don't cry

The path that I'm walking
I must go alone
I must take the baby steps 'til I'm full grown, full grown
Fairytales don't always have a happy ending, do they?
And I foresee the dark ahead if I stay

[CHORUS]

Like the little school mate in the school yard
We'll play jacks and uno cards
I'll be your best friend and you'll be my Valentine
Yes you can hold my hand if you want to
'Cause I want to hold yours too
We'll be playmates and lovers and share our secret worlds
But it's time for me to go home
It's getting late, dark outside
I need to be with myself and center, clarity
Peace, Serenity

[CHORUS]

La Da Da Da Da Da