Senin, 13 Januari 2014

Cerpen - Aku Berhasil

Aku hanyalah seorang anak yang terlahir dari keluarga miskin di bagian timur kota terbesar di Indonesia yaitu Jakarta. Ayahku hanyalah seorang buruh pabrik sepatu dan ibuku hanya seorang pembantu rumah tangga. Aku memiliki seorang adik laki laki berumur 8 tahun. Aku dan keluargaku tinggal di sebuah rumah kardus di pinggir sungai. Banyak resiko yang harus kita hadapi saat tinggal di sana. Yang pertama resiko banyaknya penyakit yang dapat menyerang kita, selain itu tinggal di pinggiran sungai dapat menimbulkan resiko hanyut terbawa air. Hidupku sangat sederhana dan penuh dengan kekurangan. Terkadaang aku selalu memandang ke depan. AKU HARUS BERHASIL!!!! Berhasil meraih cita cita ku!!! Aku tak ingin terus menerus hidup seperti ini. Aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku, aku ingin membalas jasa jasa orang tuaku, aku tak ingin selalu membebankan kedua orang tuaku.
            Aku seorang mahasiswa di sebuah universitas negeri jurusan sosial politik, sekarang aku memasuki semester  8. Hari ini adalah hari pertama masuk kuliah setelah libur panjang. Saat ku melangkah memasuki gerbang kuliah, aku sudah mendengar berbagai ejekan serta cemohan dari teman temanku. Sejak awal aku kuliah di sini aku sudah mendapatkan cemohan dan ejekan, sehingga aku sudah terbiasa mendengar hal itu semua. Hanya aku....hanya aku yang mendapatkan berbagai cemohan dan ejekan dari teman temanku. Mereka sering mengejekku dengan ejekkan mereka yang mengatakan bahwa aku hanyalah kotoran yang mengotori kuliah  ini. Benakku selalu bertanya-tanya, “Apa karena aku satu satunya seorang anak miskin yang kuliah di universitas terbagus, terelit, dan termahal di Jakarta ini??? Apa seorang anak miskin sepertiku ini tak pantas kuliah di universitas ini???” Walaupun berbagai cemohan dan ejekan datang menghampiriku, aku akan tetap bertahan di universitas ini aku tak akan menyianyiakan beasiswaku ini. Tujuan utamaku bersekolah agar aku dapat meraih cita citaku, bukan untuk mencari teman atau yang lainnya, aku harus fokus pada tujuan utamaku untuk meraih cita citaku. Dalam hal pertemanan atau pergaulan aku mengakui aku memang kalah dengan teman temanku yang lainnya tetapi dalam hal prestasi, aku tak mau kalah dengan mereka.
            Saat istirahat aku melewati ruang dosen tiba tiba Bu Trisya dosen fisika ku memanggil namaku, “Cindy!!” beliau menawariku untuk menjadi perwakilan dalam lomba cerdas cermat tingkat kota. Aku ingin sekali mengikuti lomba ini, tapi dengan tegas aku mengatakan, “Tidak”. Aku tau lomba ini akan membutuh dana yang cukup besar. Aku memahami orangtuaku yang tak memiliki banyak uang. Lalu Bu Trisya menjelaskan kepadaku, “Semua biaya akan di tanggung oleh sekolah”. “Alhamdulillah!” aku mengatakannya dalam benakku. Aku pun menyanggupi untuk mengikuti lomba cerdas cermat  yang akan diadakan 2 bulan lagi. Bu Trisya memilihku karena beliau percaya bahwa saya mampu untuk menghadapi lomba cerdas cermat ini dan menurut beliau aku marupakan anak yang cerdas karena selalu meraih peringkat satu di kelas dan hanya aku satu satunya anak yang pernah mengikuti program akselerasi. Aku beruntung terpilih menjadi perwakilan lomba ini dengan aku mengikuti lomba ini aku dapat mengasah kemampuanku. Aku pun tak sabar memberitahu orangtuaku.
Sebelum pulang untuk memberitahu kabar ini ke orangtuaku, seperti biasa setiap pulang sekolah aku selalu membantu orantuaku dengan mengamen dari satu rumah ke rumah lainnya mencari selembar uang yang dapat meringankan beban orang tuaku. Biasanya sambil mengamen aku melihat berbagai kehidupan sosial yang dijalani beberapa orang, dan ini menambah inspirasi hobiku. Hobiku adalah menggambar. Dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun aku selalu membawa peralatan menggambarku. Di waktu luang aku selalu menyempatkan diriku untuk menggambar. Aku paling suka menggambar tentang berbagai kehidupan sosial yang di jalani oleh beberapa orang. Apapun yang aku gambar salalu ku pajang di dinding dinding kardus kamarku. Hingga sekarang sudah ada puluhan gambar kehidupan sosial yang aku pajang. Dengan memandangi gambarku tentang kehidupan sosial ini membuatku semakin bersemangat belajar untuk meraih cita-citaku sebagai Duta Kemanusiaan yang bertujuan mensejahterahkan kehidupan masyarakat yang ada di gambarku. Aku pernah mengikuti lomba menggambar dan alhamdulillah aku meraih juara II. Sejak saat itu aku pun terus mengasah kemampuanku menggambar.
****
            Setelah terpilihnya aku menjadi perwakilan dalam lomba cerdas cermat aku mendapatkan tambahan pelajaran dari Bu Trisya. Aku mendapatkan pelajaran berupa pelajaran yang akan di ujikan pada cerdas cermat yang akan aku ikuti. Bu Trisya satu satunya dosen yang mengerti aku dan baik padaku. Bu Trisya senantiasa membimbingku dalam menghadapi lomba cerdas cermat tersebut.
            Hari demi hari tlah berlalu, minggu demi minggu tlah beralu....
Kurang dari 1 minggu lagi aku akan menghadapi lomba cerdas cermat tingkat kota. Aku semakin meningkatkan belajarku. Aku tak mau....tak mau mengecewakan orang orang yang telah mendukungku sepenuhnya, tak mau mengecewakan Bu Trisya, tak mau mengecewakan orangtuaku, dan tak mau mengecewakan sekolahku. Aku harus BISA menjadi JUARA!! Aku akan lebih keras berusaha.
            Hari yang di tunggu tunggu pun tlah tiba. Hari ini adalah hari lomba cerdas cermat dilaksanakan. Aku mendapatkan nomer urut 081098. Aku berharap nomer ini menjadi nomer keberuntunganku. Setelah bersiap siap, tepat pukul 08.00 Bu Trisya menjemputku menggunakan sepeda motor. Beliau yang mengantar sekaligus menemaniku saat lomba. Saat sampai di tempat aku bergegas memasuki ruangan yang setengah jam lagi lomba akan dimulai, Bu Trisya pun menunggu ku di luar. Aku menghadapi berbagai macam soal mulai dari mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, hingga Ilmu Sosial. Aku mengerjakannya dengan santai ada beberapa soal yang tak bisa kukerjakan, walaupun begitu aku tak menyotek ke teman sebelah ku aku menyadari kejujuran adalah yang utama bukanlah menang atau kalah. “Teeeeng....Teeeeng....!!” Bel berbunyi menandakan waktu mengerjakan telah selesai aku segera mengumpulkan lembar jawabanku. Pemenang lomba akan diumumkan satu minggu setelah pelaksaan lomba. Dan aku pun segera pulang, di perjalanan aku bercerita banyak kepada Bu Trisya.
****
            Satu minggu tlah berlalu....
            Ini adalah hari di umumkannya pemenang lomba cerdas cermat tingkat kota. Sepulang kuliah aku dan Bu Trisya mendatangi tempat lomba tersebut. Semua orang telah duduk menunggu hasil keputusan juri. Juara ketiga dan kedua telah diumumkan. Dan juri mengatakan, “Juara Pertama diaraih oleh...................Cindy!!!!!” Aku tak menyangka aku berhasil meraih juara pertama. Aku pun bergegas naik ke atas panggung dan menerima piala yang tingginya sekitar 1 meter dan mendapatkan uang senilai 125juta. Aku merasa bahagia, aku merasa berhasil, aku merasa senang...benakku berkata”Terimakasih Tuhan!!”. Tiba tiba seorang bapak berkisar umur 48 tahun, berkumis, bertubuh tegap, memakai jas coklat menghampiriku beliau memberi selamat kepadaku. Setelah acara selesai, bapak tersebut menghampiriku di depan pintu masuk. Beliau memperkenalkan dirinya, beliau bernama Bapak George Daviz, beliau adalah Mentri Sosial . Beliau menawariku untuk menjadi Duta Kemanusian di Afrika setelah aku lulus nanti. Aku tak bisa berkata apa apa. Aku hanya terdiam dengan mulut menganga. Aku bingung, aku bahagia, ini seperti mimpi. Setelah aku cukup lama diam, Bapak George Daviz menanyakan lagi kepadaku, “Bersediakah kamu?” Aku pun menjawabnya dengan hati yang gembira, “Iya pak saya bersedia. Terimakasi pak!Terimakasih!” Bapak George Davidz memberikan kartu namanya kepadaku dan kita pun bersalaman setelah itu kita pun berpisah. Aku segera pulang dan tak sabar memberitahu kedua orang tuaku tentang hal ini. Aku berlari menemui ibu dan bapak ku aku memeluk mereka dengan erat. Mereka pun terhran heran ada apa dengan aku. Setelah aku menjelaskan semuanya ibu dan bapak ku pun menangis bahagia sambil memelukku. Mereka berkata, “Selamat nak!! Selamat!! Kamu dapat membuktikan nya kepada bapak dan ibu, kita bangga padamu nak.” Kita semua pun saling berpelukkan termasuk adikku, kita semua menangis bahagia.
****
            Sepuluh bulan tlah berlalu....
            Ini adalah hari kelulusanku...
            Aku segera bersiap siap untuk menanti hari kelulusanku. Aku, Ibu, bapak, dan adekku pergi ke sekolah dengan jalan kaki. Setelah sampai, aku segera memasuki ruang kelas untuk mempersiapkan proses wisudaku sementara ibu, bapak dan adekku menunggu di ruang wisuda. Ibu,bapak dan adekku datang ke sekolahku untuk melihat aku di wisuda.
            Setelah semua selesai, aku berjalan menuju tempat duduk di depan panggu begitu juga dengan teman teman ku. Satu per satu temanku telah dipanggil namanya. Setelah cukup lama aku menunggu, namaku pun akhirnya dipanggil. Aku berdiri berjalan menuju panggung. Rektor pun mewisuda saya. Ini menandakan saya tlah lulus dari universitas ini dan aku berhasil mendapatkan nilai kelulusan tertinggi, aku pun merasa bahagia, aku menangis bahagia. Aku segera menuju keluargaku menunjukkan rasa bahagiaku.
            Satu bulan tlah berlalu....
            Dengan segera aku menuju ke kantor Bapak George Daviz. Di sana aku bertemu dengan beliau dan membicarakan beberapa hal tentang perwakilanku sebagai Duta Kemanusiaan di Afrika. Beliau sudah merencanakan bahwa bulan depan saya sudah dipastikan akan berangkat ke Afrika. Beliau memberitahuku apasaja yang akan aku lakukan di Afrika. Setelah itu aku pun segera pulang.
            Di perjalanan aku berjalan dengan bahagia tetapi tiba tiba terlintas di pikiranku, “Aku akan meninggalkan keluargaku, aku akan meninggalkan kenanganku di sini” aku pun tak merasa sebahagia tadi. Setelah sampai rumah aku bercerita kepada orangtuaku. Mereka mengatakan, “Tak apa nak, ini demi mengejar cita-citamu jangan biarkan kami sebagai penghalang kamu untuk mengejar cita-citamu. Tak apa biarkan kami di sini, tapi kamu harus janji kamu harus jadi orang yang sukses yang berhasil jangan seperti kami ini nak.” Aku pun terharu mendengar perkataan kedua orang tuaku, aku pun menangis memeluk mereka.
****
            Sebulan tlah berlalu...
            Inilah saatnya aku untuk pergi meraih cita cita ku, aku berpelukan dengan kedua orang tuaku serta adekku kita menangis bersama. Berat rasanya meninggalkan keluargaku, tapi ini demi cita cita ku, demi membahgiakan orantuaku, dan demi membalas jasa jasa orantuaku. Setelah itu, aku menuju ke bandara. Di sana Bapak George Daviz tlah menunggu ku. Aku pun mengucapkan terimakasih dan segera check in kedalam. Tepat pukul 09.00 pesawat telah lepas landas, aku melihat ke jendela, dan aku berkata dalam hatiku “AKU BERHASIL, Terimakasi Tuhan.”

            

2 komentar:

  1. Gak ada konflik, cerita termasuk biasa, klimaks gak kerasa. Ide bagus sih. Unsur ekstrinsik dimasukkan juga ya tik :) Keep going, buat yang lebih bagus

    BalasHapus
  2. Sama tolong dikasih JUMPBREAK ya Tik, biar orang gak males bacanya.

    BalasHapus