Teng...
Teng...
Lonceng sebuah sekolah menengah
pertama di sebuah desa berbunyi tepat pukul jam setengah 12 siang dan
menandakan waktunya untuk istirahat. Semua kegiatan belajar mengajar dihentikan
sejenak. Beberapa siswa keluar dari kelas untuk menghabiskan waktu istirahat
mereka. Ada yang membeli beberapa makanan atau minuman di kantin sekolah, ada
yang pergi ke kelas temannya, dan ada juga yang ke masjid untuk melaksanakan
ibadah sholat dhuhur. Saudara kembar Alin dan Alis beserta dua temannya Rina
dan Grace segera merapikan meja mereka dan memasukkan buku dan alat tulis ke
dalam tas mereka masing-masing setelah lonceng sekolah berbunyi. Lalu, mereka
mengambil mukenah milik mereka masing-masing dari dalam tas dan segera menuju
ke masjid untuk melaksanakan ibadah sholat dhuhur.
Alin
dan Alis yang duduk di kelas 8 A dan jarak kelas mereka sedikit jauh dari
masjid yang ada di sekolah mereka. Bersama Rina dan Grace, Alin dan Alis menuju
ke masjid sambil berbincang-bincang dan bercanda tawa. Tidak lama kemudian
mereka pun sampai di sebuah masjid yang tidak terlalu besar dan letakya
berdekatan di kelas 9 C. Mereka segera menghentikan perbincangan dan melepas
sepatu beserta kaos kaki yang mereka pakai. Alis yang terlebih dulu selesai
melepas kaos kaki dan sepatu segera mengajak saudara kembarnya dan juga
teman-temannya masuk ke dalam masjid untuk mengikuti ibadah sholat dhuhur
berjamaah. Alis berkata, “Ayo guys, cepetan masuk! Nanti kita tertinggal sholat
dhuhur berjamaah, kalo kalian masih lama aku duluan aja deh.”
“Iya
tunggu sebentar lis, ini uda paling cepet.” Balas alin yang sambil melepas kaos
kakinya.
Karena
tidak mau menunggu Alin, Rina, dan Grace yang lebih lambat dari Alis, ia
memutuskan untuk masuk ke dalam masjid terlebih dahulu. Tidak lama setelah itu
Alin, Rina, dan Grace selesai melepas kaos kaki segera masuk ke dalam masjid
dan menyusul Alis yang terlebih dulu masuk ke dalam masjid.
Alis
yang di dalam masjid terlebih dulu menunggu di ruang tengah masjid dan menaruh
mukenahnya di tempat itu terkejut saat Alin, Rina, dan Grace mengejutkannya.
Merekapun tertawa kecil di ruang tengah masijid tersebut. Alis, Alin, Rina, dan Grace segera
menghentikan tawanya dan menaruh mukanah di sebelah mukenah milik Alis. Setelah
itu, mereka menuju ke tempet wudhu untuk mengambil air wudhu sebelum
melaksanakan ibadah sholat dhuhur berjamaah. Air wudhu yang jernih, dingin, dan
segar membasuhi hampir seluruh bagian tubuh mereka membuat tubuh mereka lebih
segar dan bersemangat.
“Hi...dingin
banget ya air wudhunya tapi rasanya segar banget pas uda wudhu gini.” Ungkapan
kagum Rina.
Setelah
air wudhu yang jernih dan dingin tersebut membasuhi hampir seluruh tubuh
mereka, meraka kembali ke ruang tengah masjid tempat dimana mereka meletakkan
mukenah milik mereka. Kemudian, mereka mengikuti ibadah sholat dhuhur secara
berjamaah. Sekitar 15 menit kemudian, ibadah sholat dhuhur berjamaah telah
selasai dilaksanakan Alis, Alin, Rina, dan Grace segera merapikan mukenah yang
tadi mereka pakai untuk melaksanakan ibadah sholat dhuhur. Lalu memakai kaos
kaki dan sepatu milik mereka masing-masing dan segera kembali ke kelas.
***
Tidak
seperti kelas lainnya yang banyak murid di dalamnya, kelas 8 A tampak terlihat
sepi tidak ada satu pun murid yang berada di dalam kelas 8 A. Tidak lama, Alis,
Alin, Rina, dan Grace masuk ke dalam kelas 8 A yang sepi tersebut dan duduk di
bangku mereka masing-masing. Dan kebetulan Rina dan Grace duduk di belakang
bangku Alis dan Alin sehingga duduk mereka berempat berdekatan dan jika mereka
ingin berkumpul mereka hanya perlu duduk di bangku mereka masing-masing. Alis,
Alin, Rina, dan Grace memasukkan mukenah mereka ke dalam tas mereka masing-masing
dan mengambil kotak bekal dari dalam tas yang biasanya mereka bawa dari rumah.
Tapi tidak seperti yang lainnya, Grace yang dari tadi menggeledah tasnya tidak
mengeluarkan bekal yang ia bawa tiap harinya.
“Loh
Grace.. mana bekalmu? Kok gak dikeluarkan? Takut aku minta ya? Tenang saja, aku
bawa bekal sendiri kok hari ini dan aku yakin bekal ku lebih enak dari punyamu
he..he...” Tanya Rina kepada Grace dengan sedikit menyindir.
Grace
menjawab dengan ragu,“Sepertinya bekalku tertinggal di rumah.”
“Kok
bisa?” Tanya Alin yang mulutnya terisi dengan nasi bekal yang ia bawa.
“Mungkin
akunya yang lupa memasukkannya ke dalam tas, padahal tadi mamaku sudah
disiapkan sama mamaku L.” Grace
menjawab pertanyaan dari Alin dengan wajah sedih.
“Ya
sudah ini... kita makan bekalku.” Rina menawarkan kepada Grace sambil
menjulurkan bekal yang ia bawa. Dan grace pun tidak menolak tawaran yang
diberikan oleh Rina. Lalu, Alis, Alin, Rina, dan Grace pun makan bersama-sama
di meja mereka masing-masing sambil berkelompok.
Seketika
kelas yang awalnya hanya ada Alis, Alin, Rina, dan Grace menjadi ramai. Alis,
Alin, Rina, dan Grace awalnya terheran-heran karena tiba-tiba teman sekelasnya
datang secara bersama-sama. Rupanya teman-teman sekelas Alis, Alin, Rina, dan
Grace sedang mempersiapkan kejutan yang akan diberikan kepada Icha teman
sekelas mereka yang pada hari itu sedang ulang tahun. Teman-teman sekelas Alis,
Alin, Rina, dan Grace yg sedang menyiapkan kejutan untuk Icha, segera
menyalakan lilin di atas kue tart besar dan tertuliskan “SELAMA ULANG TAHUN
ICHA”. Dan tidak lama setelah itu, Icha datang semua serentak menyanyikkan lagu
selamat ulang tahun kepada Icha. Alis kagum melihat kue tart besar dan terlihat
lezat yang akan diberikan kepada Icha dan berkata, “Waw..kue tart nya besar
sekali ya... pasti harganya mahal, belinya pun pasti gak di sembarang tempat.”
“Ya
pastilah, kamu gak bakalan bisa beli kue tart yang kayak gitu.” Sindiran dari
Mira, salah satu teman sekelas Alis, Alin, Rina, dan Grace yang tidak begitu
suka dengan mereka yang tiba-tiba datang ke meja mereka berempat.
“Terus
masalah buat kamu?” Alisa membalas dengan nada marah.
“Enggak
sih, tapi aku kasihan aja sama kamu.. ha..ha..ha..” Mira melanjutkan sindirannya
sambil berjalan menjauh.
Alis
pun bertambah marah “Iiihh..awas kamu!! Nanti.....” “Sudah-sudah lis, hiraukan
aja, yuk kita lanjutkan makan kita.” Sahut Alin yang menyela Alis.
Alis,
Alin, Rina, dan Grace melanjutkan makan mereka sambil berbincang-bincang dan
bercanda tawa hingga bekal makanan yang mereka bawa habis, dan segera
memasukkan kotak bekal mereka ke dalam tas mereka masng-masing.
***
Teng..
Teng.. tidak lama setelah Alis, Alin, Rina, dan Grace menghabiskan makanan- nya
bel sekolah berbunyi dan menandakan waktu untuk istirahat telah habis. Siswa-siswi yang lain segera kembali ke kelas
mereka masing-masing untuk mengikuti kegiatan belajar yang akan berlangsung
setelah bel yang menandakan waktu istirahat habis berbunyi. Pelajaran pun
berlangsung hingga pukul 2 siang.
Teng..
Teng.. tepat pukul 2 siang bel sekolah berbunyi menandakan waktunya untuk
pulang. Pelajaran yang sedang berlangsung pun dihentikan dan dilanjutkan hari
esok. Semua murid segera mengemasi buku pelajaran beserta alat tulis. Mereka
memasukkan buku pelajaran dan alat tulis ke dalam tas mereka masing-masing dan
segera pulang. Sebelum murid-murid pulang, seperti biasanya mereka harus
memberikan salam kepada guru yang mengajar pada pelajaran terakhir.
Seperti
biasa Alin dan Alis berjalan pulang ke rumah sementara Rina dan Grace dijemput
oleh orang tuanya. Mereka berempat selalu mengucapkan “See You” untuk satu sama
lain sebelum mereka pulang. Mereka selalu mengucapkan “see you” karena mereka
selalu berharap dapat bertemu dan berkumpul bersama lagi pada hari esok, begitu
lah prinsip mereka berempat.
Alin
dan Alis berjalan melewati jalan yang biasanya mereka lewati saat berangkat dan
pulang sekolah. Di tengah perjalanan Alis membahas kue tart milik Icha tadi
sementara Alin hanya menanggapinya dengan hal positif. Tiba-tiba Alin teringat
bahwa ada sebuah toko baru di dekat perempatan jalan yang biasanya Alin dan
Alis lewati karena penasaran akan toko baru tersebut Alin menyarankan agar
melihat toko tersebut dan Alis pun menyetujui. Sekitar 5 menit kemudian, mereka
sampai di sebuah toko berwarna ungu muda bercampur warna kuning yang telah
dipadati oleh banyak orang tetapi Alin dan Alis harus berdesakan untuk melihat
apa yang dijual di toko baru tersebut karena terlalu banyak orang yang memadati
toko tersebut.
Sekian
lama Alin dan Alis dan akhirnya mereka sampai di depan pintu toko baru
tersebut. Mereka seakan terkejut melihat toko tersebut karena begitu indah dan
bagus toko baru tersebut. Lalu, mereka memutuskan untuk melihat-lihat sebentar
apa yang dijual di dalam toko baru tersebut. Setelah mereka masuk ke dalam
toko, mereka baru tahu kalo toko baru tersebut menjual roti. Tiba-tiba Alis
berlari ke sebuah lemari kaca yang dalamnya terdapat sebuah kue tart yang indah
dan mirip seperti milik Icha. Alis memutuskan untuk membeli kue tart itu .
“Lin, Aku ingin membeli kue tart itu.” Alin mengingatkannya bahwa mereka sedang
krisis uang sehingga sedikit kemungkinan mereka bisa membeli kue tart tersebut.
“Tapi lis, uang kita tinggal sedikit. Nanti kita bicarakan lagi dirumah aja.”
Merekapun segera pulang setelah menghilangkan rasa penasaran mereka akan toko
baru tersebut.
Ibu
Alis dan Alin yang telah menunggu di depan rumah menyambut mereka saat mereka
baru pulang dari sekolah. Tidak lupa dan seperti biasa Alis dan Alin selalu mengucapkan salam kepada ibunya dan
ibu mereka pun membalasnya dengan salam juga. Setelah itu, Alis dan Alin menuju
ke kamarnya dan membicarakan tentang kue tart yang dijual di toko baru tadi.
Alis yang ingin sekali membeli kue tart tersebut mengawali pembicaraan mereka
dengan menanyakan, “Apa yang harus aku lakukan lin? Aku ngin beli kue tart yang
tadi.”
“Aku
tau kamu sangat menginginkan kue tart itu tapi kita ini lagi gak punya uang
lis. Apa kita mau minta ke ibu? Kamu tau kan dari kemarin ibu mengeluh tentang
biaya sekolah kita? apalagi kita mau minta uang ke ibu, beban ibu pasti
bertambah lis dan kita gak mungkin minta uang ke ibu jika kita gak mau menyusahkan
ibu. Kalau kita mau beli kue tart itu, kita harus pakai uang kita sendiri. Aku
gak mau menambah beban ibu. Kita harus bherusaha sendiri lis.” Ujar Alin
berusaha menjelaskan kepada alisa.
Tetapi
Alis tetap ingin membeli kue tart tersebut, lalu ia menanyakan solusi apa yang
akan mereka lakukan. “Iya sih lis, terus sekarang kita harus ngapain? Solusinya
gimana?”. Alin pun dengan bijak memberikan solusi yang tepat, “Gimana kalo tiap
hari kita sisakan uang jajan kita untuk ditabungkan? Nih aku punya kaleng bekas.
Lumayan, bisa buat tempat celengan”.
Alis
pun setuju dengan solusi yang diberikan oleh Alin. Setelah semua teratasi
mereka pun mulai menyisihkan uang jajan mereka hari itu juga. Lalu, mereka
segera ganti baju dan melakukan kegitan yang biasanya mereka lakukan.
Ke
esokan paginya Alis dan Alin berangkat sekolah dengan semangat. Mereka melewati
toko kue yang menjual kue tart yang akan mereka beli dan terus berjalan menuju
ke sekolah. Pukul 7 tepat sekolah dimulai dan pelajaran berlangsung hingga jam
istirahat. Diwaktu istirahat sedang berlangsung, Alis hampir saja menghabiskan
uanng jajannya. Dan untung, Alin selalu mengingatkan Alis agar menyisihkan uang
jajan nya untuk ditabungkan.
Waktu
pun cepet berlalu hingga bel sekolah berbunyi dan menandakan waktu pulang
sekolah telah tiba. Alis dan Alin bergegas pulang dan berjalan melewati toko
kue baru itu dan sejenak mampir masuk ke dalam.
Setelah sampai di rumah dan masuk ke kamar mereka mengeluarkan uang
jajan yang mereka sisih kan. “Eh lin, lihat nih uang jajan ku sisa 8000.” Ujar
Alisa sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam uang 8000. Lalu Alin pun
menanggapinya dengan berkata, “Alhamdulillah, aku ada 10.000 nih.” Merekapun
langsung memasukkan uang mereka ke dalam celengan kaleng.
Setiap
hari, tidak lupa Alis dan Alin selalu menyisihkan uang jajan nya walaupun
terkadang Alis dan Alin sampai tidak jajan di sekolah. Dan mereka selalu mampir
untuk melihat-lihat toko kue baru yang ada di perempatan jalan itu. Hampir
tidak terasa sudah satu bulan mereka menabung uang yang mereka kumpulkan sudah
lumayan banyak. “Wah Lis lihat, nih uang kita sudah terkumpul 280.000.” Ujar
Alin setelah menghitung jumlah uang yang mereka tabung.
Alis
pun terdengar senang “Iya ya lin, Alhamdulillah. Kurang beberapa minggu lagi
kita bisa beli kue tart yang kayak punyanya Icha, horay...”
Beberapa hari setelah itu, Alin dan
Alis akan melaksanakan Ujian Akhir Semester dan harus melunasi SPP bulan
Desember. Sementara ibu Alin dan Alis sedang tidak ada uang. Setelah tau
keadaan keuangan ibunya. Alin menyarankan, “Kita pakai uang tabungan kita dulu
ya lis, dari pada kita gak ikut Ujian Akhir Semester”. Dan Alis pun
menyetujuinya. Masalah yang mereka hadapi pun terselesaikan.
Suatu
hari, ibu Alin dan Alis jatuh sakit dan harus segera dibawa ke rumah sakit
sementara uang cadangan ibu mereka habis, sehingga mereka memakai uang tabungan
mereka lagi demi membayar biaya rumah sakit ibunya.
***
Satu
bulan setelah itu, tepatnya pada hari sabtu....
Alin dan Alis berangkat ke sekolah
seperti biasa dan mereka selalu melewati jalan yang sama menuju ke sekolah
serta tidak lupa mereka selalu melihat toko kue yang ada di perempatan jalan.
Di waktu istirahat sebelum Alin, Alis,
Grace, dan Rina pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat dhuhur Alis
menyarankan kepada Alin, “Eh..lin.. gimana kalau nanti kita buka celengan kita
dan kita hitung uangnya? Kita sudah nabung cukup lama, pasti jumlah uang
tabungan kita banyak dan kita bisa beli
kue yang mirip seperti miliknya Icha.”
“Iya
terserah kamu saja lis, aku ikut saja.” Alin menjawab sambil mengeluarkan
mukenahnya dari dalam tas.
Lalu,
Alin, Alis, Grace, dan Rina bergegas berangkat ke masjid. Setelah selesai,
mereka kembali ke kelas dan melakukan kegiatan yang biasanya mereka lakukan,
***
Teng..
Teng.. waktu menunjukkan pukul 2 siang dan menandakan waktunya untuk pulang.
Ain dan Alis bergegas berjalan pulang, mereka sejenak melihat toko kue yang ada
di perempatan jalan. Setelah sampai
rumah, mereka segera ke kamar dan menghitung jumlah uang yang ada di celengan
mereka. Dan, “Alhamdullillah uang kita sudah berkumpul 340.000.” Ucap syukur
Alin. Dengan uang yang berjumlah begitu banyak mereka segera berganti baju dan
berjalan ke toko kue yang ada di perempatan jalan. Sekitar 10 menit, mereka
sampai di depan toko kue tersebut dan segera masuk ke dalam. Mereka
menyempatkan untuk melihat-lihat kue tart yang lain yang di jual di toko kue
tersebut. Rupanya, ada kue tart yang lebih bagus daripada kue tart yang mirip
seperti milik Icha. Dan Alis pun langsung menghentikan minatnya untuk membeli
kue tart yang mirip seperti miliknya Icha dan beralih minat untuk membeli kue
tart yang menurutnya lebih bagus daripada kue tart yang mirip seperti milik
Icha. “Terserah kamu.” Alin menanggapinya dengan polos.
Akhirnya,
mereka memutuskan untuk membeli kue tart yang ingin Alis beli. “berapa harga
kue itu mbak?” tanya Alis yang sudah tidak sabar untuk membeli kue tersebut.
“Harganya
300.000 dek.” Pramuniaga toko tersebut menjawab
“Biklah,
Kami ambil kue itu ya mbak. Ini uangnya!”. Alin membalas sambil mengulurkan
tangannya yang terdapat uang 300.000
Sekitar
15 menit kue tart yang mereka beli pun sudah terbungkus kotak yang berhiaskan
bunga putih biru sehingga terlihat lebih indah dan cantik. Lalu mereka segera
pergi meninggalkan toko kue tersebut dan berfikir sejenak dimana tempat yang
cocok untuk memakan kue tar tersebut. “Gimana kalau si pos ronda dekat RW 6?”
Saran Alin. “Okay!” Alis membalasnya. Merekapun segera ke pos ronda RW 6.
Setelah
mereka sampai di pos ronda RW 6, mereka segera membuka kotak yang membungkus
kue yang mereka beli tadi. Tiba-tiba Seorang bapak tua bersama keluarganya yang
memakai baju robek-robek menyela ke gembiraan Alin dan Alis dan berkata, “Nak
boleh minta kue nya? Kami lapar, kami tidak makan hampir 2 hari.”
“Emhh...”
Alis ragu.
“Sudah
lis kita kasih aja bapak itu semua kue tarnya, nantikan kita bisa beli lagi.
Semetara bapak itu dan keluarganya tidak makan hampir 2 hari.” Alin dengan
bijak ingin memberikan kue tersebut.
Alis
dengan tegas menjelaskan kepada Alin , “Tapi kan lis.. kita sudah lama
menatikan kue tart ini, kita uda nabung berbulan-bulan, kita uda gak jajan
berhari-hari. Masa’ kamu mau langsung memberikan kue tart yang susah kita dapat
kan ini kepada bapak itu dan keluarganya.”
“Sudah
lah, kita kan bisa menabung lagi nanti dan bisa beli kue tart lagi. Nah
sementara bapak itu dan keluarganya kasian lis. Memberikan hal yang berharga
milik kita untuk orang lain pahalanya besar dan Allah pasti memberikan keberkahan
kepada hamba-hambanya yang tulus memberikan hal yang berharga miliknya sendiri
untuk orang lain”. Sekali lagi Alin menjelas kan lebih detail dengan bijak.
Alis
hanya menjawab singkat , “Baik lah.”
Mereka
pun setuju memberikan kue tar yang mereka beli tadi kepada bapak itu dan
keluarganya dengan iklas.
“Alhamdulillah.
Terima kasih nak, kalian memang anak-anak yang baik. Suatu hari nanti Allah
pasti membalas kebaikkan kalian.” Dengan bahagia bapak itu mengucapkan
terimakasih sambil menangis.
“Iya
pak.” Alin membalas dengan senyum.
Lalu,
mereka segera pulang ke rumah. Tetapi, Alis sedikit kesal dengan keputusan yang
diberikan oleh Alin. Namun, Alin pun berusaha memberikan penjelasan lagi kepada
Alis hingga Alis dapat menerimanya dengan iklas.
***
Hari ini adalah hari Jum’at, 6 hari
setelah kejadian itu dan hari ini adalah tanggal 08 Oktober tepat hari ulang
tahun Alis dan Alin. Sejak pagi semua berjalan normal seperti tidak ada yang
aneh pada hari itu menurut mereka berdua. Tetapi tiba-tiba saat pulang sekolah,
teman-teman sekelas mereka serentak memberikan keutan kepada Alis dan Alin. Teman-teman
sekelas mereka memberikan Alin dan Alis kue tart yang lebih bagus dan lebih
indah dari kue tart yang mereka pernah beli.
Di
sini lah Alis menyadari, “Lin benar apa katamu Allah pasti memberikan
keberkahan kepada hamba-hambanya yang tulus memberikan hal yang berharga
miliknya sendiri untuk orang lain. Maaf ya waktu itu aku sempat kesal denganmu,
aku menyadari perbuatan baik pasti ada berkah yang akan kita terima suatu
hari.”
“Iya
J aku tau kok J ” Alin menjawab dengan senyum yang lebar.
Akhirnya
Alin dan Alis merayakan uangtahun mereka bersama teman-teman sekelas mereka.
------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar